Kreasi Spektakuler Mahasiswa SBM ITB

oddiseyOddisey 2009
Kreasi Spektakuler Mahasiswa SBM ITB

Kolaborasi antara drama musikal, fashion show, dan koreografi, atas
nama sebuah mata kuliah. Ya, itulah dia Oddisey 2009! Bagi yang belum
mengetahui, Oddisey (Opera and Drama Inspired by SBM for Education
Charity) adalah pertunjukkan drama yang rutin digelar setiap tahun
oleh para mahasiswa Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Tahun ini,
Oddisey sudah menginjak kali ke-empat sejak digelar pertama kali tahun
2005.

Acara ini memang menjadi salah satu kegiatan yang mengundang
antusiasme tinggi dari mahasiswa SBM, khususnya angkatan baru.
Bagaimana tidak? Sebuah mata kuliah bernama Management Practice
diakhiri bukan dengan ujian akhir formal nan serius di dalam kelas.
Para mahasiswa justru ditugasi mengaplikasikan ilmu manajemen secara
aplikatif dengan bekerjasama membuat pagelaran drama. Ada yang
berperan sebagai pemain, director, scriptwriter, choreographer, stage
manager, hingga show organizer. Seru, kan?

Implementasi ilmu manajemen itu dipadukan pula dengan pengetahuan seni
peran melalui refleksi dua mata kuliah yang pernah diterima mahasiswa
pada semester sebelumnya, yakni, Performance Skill dan Artistic
Recollection. Seperti dituturkan oleh Ronald, ketua panitia, dalam
sambutannya, “Ini acara yang paling kami tunggu-tunggu! Waktu latihan
memang terbatas, tapi kami coba tampilkan semaksimal kami,” katanya.

Dekan SBM ITB, Prof. Dr. Ir. Surna T. Djajadiningrat, dalam
sambutannya menyampaikan bahwa Oddisey merupakan proses pembelajaran
pengekspresian diri, dan sebagai simulasi interaksi dengan masyarakat
luas di dunia nyata. “Di sini mahasiswa belajar berkoordinasi dan
manajemen diri sendiri dan kelompok,” katanya.

The Venue Concert Hall Eldorado, Jln. Dr. Setiabudi 438, Bandung,
tampil gemilang pada Selasa (28/7) malam lalu. Tempat pertunjukkan
sudah oke, giliran menu utama acaranya yang bikin penasaran. Penonton
yang terdiri dari para mahasiswa, orangtua, staf pengajar SBM ITB,
hingga masyarakat umum, yang telah memenuhi bangku penonton, nampak
tak sabar menyaksikan hasil kerja para mahasiswa SBM angkatan 2008
(class of 2011) kali ini.

Panggung dibuka dengan pertunjukkan pertama bertajuk “The Fusion Show”
yang dibawakan oleh kelompok Mescolare Incontro. Berbeda dengan
kelompok lainnya yang menampilkan drama, Mescolare Incontro justru
menggelar fashion show. Ini merupakan terobosan baru yang berbeda
dengan Oddisey tahun-tahun sebelumnya.

Mix n’ match perpaduan budaya klasik dan modern, menjadi tema fashion
show mereka malam itu. Para pemainnya berlenggak-lenggok bak model
dengan rupa-rupa kostum, tata rambut, make up, hingga musik pengiring,
yang menerbangkan sejenak para penonton serasa berada dalam mesin
waktu mengarungi era victorian hingga zaman modern. Salut buat
departemen fashion & style-nya Mescolare Incontro, karena sukses bikin
mata penonton terasa segar.

Berikutnya, giliran kelompok Werewolf yang membawakan drama percintaan
berjudul “Sweet Days and Bitter Nights”. Sekilas penonton mungkin akan
teringat film “Twilight” ketika menonton cerita ini. Bedanya, jika
Edward Cullen berwujud vampir, sedangkan James Smith, tokoh utama pria
dalam lakon malam itu, punya wujud asli sebagai werewolf. Hal itulah
yang membuat James terlibat kisah cinta berujung tragis, sebab tidak
bisa bersatu dengan pujaan hatinya.

Pertunjukkan ketiga berjudul “Zamrud Khatulistawa” yang dipersembahkan
oleh kelompok D’ Ubur, bikin suasana tambah semarak. Ide cerita yang
sangat aktual, yakni, pemilihan presiden di sebuah negara bernama
Zamrud Khatulistawa, dalam bungkus komedi, menjadi keunggulan drama
ini. Formulasi yang dipakai mereka alah mempelesetkan berbagai ikon,
mulai dari Mr. Bean, Transformers, acara debat presiden, hingga meniru
tampilan Limbad dan Damian dari ajang reality show pesulap. Aktornya
yang bermain lepas, seolah tampil sebagai diri sendiri yang tengah
bercanda dengan teman sebaya, sukses bikin penonton tertawa
terpingkal-pingkal.

D’ Brondongs dengan pertunjukkan body performance cross cultural-nya
bertajuk “I Said (N)One”, dan Pandora yang membawakan kisah fantasi
“The Quest of Three Kongdom” berturut-turut menjadi penutup acara,
yang akhirnya membuat penonton beranjak pulang dengan tersenyum puas.

Ucapan selamat patut diberikan kepada mahasiswa SBM ITB atas
kreativitas, kerja keras latihan, hingga pencarian dana untuk
pembiayaan acara ini. Secara keseluruhan, kombinasi ide cerita,
koreografi, kreasi kostum, properti, musik, hingga suasana venue,
membuat acara malam itu tampil spektakuler. Tak lupa, keuntungan dari
penyelenggaraan acara bertiket seharga Rp 50 ribu (untuk VIP) dan Rp
30 ribu (untuk reguler) ini, akan disumbangkan bagi keperluan
pengembangan dunia pendidikan di Sekolah Pendidikan Luar Biasa (SPLB)
“C” YPLB, Bandung. ***

oddiseyKolaborasi antara drama musikal, fashion show, dan koreografi, atas nama sebuah mata kuliah. Ya, itulah dia Oddisey 2009! Bagi yang belum mengetahui, Oddisey (Opera and Drama Inspired by SBM for Education Charity) adalah pertunjukkan drama yang rutin digelar setiap tahun oleh para mahasiswa Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Tahun ini, Oddisey sudah menginjak kali ke-empat sejak digelar pertama kali tahun 2005.

Acara ini memang menjadi salah satu kegiatan yang mengundang
antusiasme tinggi dari mahasiswa SBM, khususnya angkatan baru.
Bagaimana tidak? Sebuah mata kuliah bernama Management Practice
diakhiri bukan dengan ujian akhir formal nan serius di dalam kelas.
Para mahasiswa justru ditugasi mengaplikasikan ilmu manajemen secara
aplikatif dengan bekerjasama membuat pagelaran drama. Ada yang
berperan sebagai pemain, director, scriptwriter, choreographer, stage
manager, hingga show organizer. Seru, kan?

Implementasi ilmu manajemen itu dipadukan pula dengan pengetahuan seni
peran melalui refleksi dua mata kuliah yang pernah diterima mahasiswa
pada semester sebelumnya, yakni, Performance Skill dan Artistic
Recollection. Seperti dituturkan oleh Ronald, ketua panitia, dalam
sambutannya, “Ini acara yang paling kami tunggu-tunggu! Waktu latihan
memang terbatas, tapi kami coba tampilkan semaksimal kami,” katanya.

Dekan SBM ITB, Prof. Dr. Ir. Surna T. Djajadiningrat, dalam
sambutannya menyampaikan bahwa Oddisey merupakan proses pembelajaran
pengekspresian diri, dan sebagai simulasi interaksi dengan masyarakat
luas di dunia nyata. “Di sini mahasiswa belajar berkoordinasi dan
manajemen diri sendiri dan kelompok,” katanya.

The Venue Concert Hall Eldorado, Jln. Dr. Setiabudi 438, Bandung,
tampil gemilang pada Selasa (28/7) malam lalu. Tempat pertunjukkan
sudah oke, giliran menu utama acaranya yang bikin penasaran. Penonton
yang terdiri dari para mahasiswa, orangtua, staf pengajar SBM ITB,
hingga masyarakat umum, yang telah memenuhi bangku penonton, nampak
tak sabar menyaksikan hasil kerja para mahasiswa SBM angkatan 2008
(class of 2011) kali ini.

Panggung dibuka dengan pertunjukkan pertama bertajuk “The Fusion Show”
yang dibawakan oleh kelompok Mescolare Incontro. Berbeda dengan
kelompok lainnya yang menampilkan drama, Mescolare Incontro justru
menggelar fashion show. Ini merupakan terobosan baru yang berbeda
dengan Oddisey tahun-tahun sebelumnya.

Mix n’ match perpaduan budaya klasik dan modern, menjadi tema fashion
show mereka malam itu. Para pemainnya berlenggak-lenggok bak model
dengan rupa-rupa kostum, tata rambut, make up, hingga musik pengiring,
yang menerbangkan sejenak para penonton serasa berada dalam mesin
waktu mengarungi era victorian hingga zaman modern. Salut buat
departemen fashion & style-nya Mescolare Incontro, karena sukses bikin
mata penonton terasa segar.

Berikutnya, giliran kelompok Werewolf yang membawakan drama percintaan
berjudul “Sweet Days and Bitter Nights”. Sekilas penonton mungkin akan
teringat film “Twilight” ketika menonton cerita ini. Bedanya, jika
Edward Cullen berwujud vampir, sedangkan James Smith, tokoh utama pria
dalam lakon malam itu, punya wujud asli sebagai werewolf. Hal itulah
yang membuat James terlibat kisah cinta berujung tragis, sebab tidak
bisa bersatu dengan pujaan hatinya.

Pertunjukkan ketiga berjudul “Zamrud Khatulistawa” yang dipersembahkan
oleh kelompok D’ Ubur, bikin suasana tambah semarak. Ide cerita yang
sangat aktual, yakni, pemilihan presiden di sebuah negara bernama
Zamrud Khatulistawa, dalam bungkus komedi, menjadi keunggulan drama
ini. Formulasi yang dipakai mereka alah mempelesetkan berbagai ikon,
mulai dari Mr. Bean, Transformers, acara debat presiden, hingga meniru
tampilan Limbad dan Damian dari ajang reality show pesulap. Aktornya
yang bermain lepas, seolah tampil sebagai diri sendiri yang tengah
bercanda dengan teman sebaya, sukses bikin penonton tertawa
terpingkal-pingkal.

D’ Brondongs dengan pertunjukkan body performance cross cultural-nya
bertajuk “I Said (N)One”, dan Pandora yang membawakan kisah fantasi
“The Quest of Three Kongdom” berturut-turut menjadi penutup acara,
yang akhirnya membuat penonton beranjak pulang dengan tersenyum puas.

Ucapan selamat patut diberikan kepada mahasiswa SBM ITB atas
kreativitas, kerja keras latihan, hingga pencarian dana untuk
pembiayaan acara ini. Secara keseluruhan, kombinasi ide cerita,
koreografi, kreasi kostum, properti, musik, hingga suasana venue,
membuat acara malam itu tampil spektakuler. Tak lupa, keuntungan dari
penyelenggaraan acara bertiket seharga Rp 50 ribu (untuk VIP) dan Rp
30 ribu (untuk reguler) ini, akan disumbangkan bagi keperluan
pengembangan dunia pendidikan di Sekolah Pendidikan Luar Biasa (SPLB)
“C” YPLB, Bandung. ***