Menulis Karya Ilmiah dan Novel

Dekan SBM ITB, Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M. Eng., tentang pandangannya berada di dunia sains dan sastra. Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Minggu, 31 Januari 2010, berikut petikannya:

FOTO DERMAWAN WIBISONO DEKAN SBM ITBMEMUTUSKAN terjun ke dunia sastra, bagi kebanyakan orang mungkin memang harus berhitung. Namun, bagi Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M. Eng., menjajal dunia sastra harus diputuskan dengan ekstra berhitung.

Sebagai civitas academica ITB, pria yang akrab disapa Wibi ini bisa dikatakan melawan arus utama ITB yang lebih fasih dalam teknologi dan sains. Selain itu, orang ITB memiliki karakter khusus yang membuat dia harus bertimbang ekstrakeras sebelum serius bergelut di bidang kegemarannya itu.

”Orang ITB itu susah memuji. Mereka pasti akan segera mencemooh sehingga awalnya saya takut. Terlebih saya memang tidak punya latar belakang sastra,” katanya setengah berseloroh.

Namun, ketakutan pehobi menulis itu akhirnya luluh setelah menemukan formula keseimbangan untuk kedua kariernya itu. Artinya, ketika dia memutuskan bergelut di dunia sastra dan mampu menghasilkan novel seperti yang diimpikannya, dia juga harus memberikan kontribusi berupa buku dan jurnal ilmiah internasional di dunia akademiknya.

Benar saja, pada saat Wibi merilis novel perdananya pada 2008 berjudul ”Sang Juara”, relatif tidak ada reaksi negatif dari ITB karena sebelumnya Wibi telah merampungkan dua buku akademik yaitu ”Manajemen Kinerja: Konsep, Desain, dan Teknik Meningkatkan Daya saing Perusahaan” pada 2006 dan “Riset Bisnis: Panduan bagi Praktisi dan Akademisi” terbitan 2003.

Malah kepiawaian Wibi merangkai kata mendapat apresiasi dari para alumni ITB. Maklum, sejauh ini Wibi adalah satu-satunya pejabat ITB yang bisa membuat novel. Pada 2009, tepatnya saat Dies Emas ITB, para alumni yang berniat membuat film dan novel tentang serentetan kisah di ITB yang terekam oleh alumni, meminta Wibi untuk menyusun novelnya.

Kumpulan cerita dari para alumnus tersebut dibukukan Wibi dalam novel berjudul ”Gading-Gading Ganesha (3G)”. Novel itu dirilis pada Juni 2009 dan tanpa disangka menjadi best seller pada Agustus hingga Oktober 2009 di penerbit Mizan. Sementara filmnya akan tayang perdana pada 14 Februari 2010.

”Untuk 2010, saya sudah menyiapkan satu novel berjudul ’Menggapai Matahari’. Akan tetapi, saya juga sudah menyiapkan buku akademik ’Panduan Penentuan Indikator Kinerja Kunci’,” ujarnya.

Sukses Wibi membuat novel dibarengi oleh suksesnya di bidang akademik. Perubahan yang dilakukannya saat menjadi ketua program studi Master of Business Administration (MBA) SBM ITB 2006-2009, mengantarkan MBA SBM ITB mendapat penghargaan dari majalah terbitan Jakarta. Kinerja mantan Anggota Satuan Penjaminan Mutu ITB itu membuat MBA SBM ITB menjadi program terbaik dari 24 sekolah bisnis se-Indonesia tingkat MBA tahun 2009.

Saat ini, dia punya tantangan baru. Diangkat menjadi dekan SBM ITB sejak Agustus 2009, akankah Wibi masih menghasilkan best seller dan prestasi akademik lainnya? Berikut ini petikan wawancaranya.

Target apa yang ingin Anda capai?

Saya ingin sekolah bisnis dan manajemen kita menjadi terbaik di South East Asia. Artinya, kita harus bersaing seperti dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand dan itu cukup berat karena secara manajerial mereka dibantu oleh sekolah bisnis Amerika.

Upaya yang sudah kami lakukan adalah menjadi anggota akreditasi internasional Europian Foundation for Management Development sejak 2007. Berdasarkan frame akreditasi itu maka kami akan melakukan perbaikan misalnya mengukur competitiveness (daya saing) mahasiswa yang masuk dan mendatangkan dosen luar negeri.

Kendalanya adalah untuk mendatangkan satu profesor per satu semester masih mahal sekitar Rp 400 juta – Rp 600 juta. Makanya kami sedang mengembangkan kolaborasi, misalnya tidak hanya dosen asing yang mengajar di sini, tetapi dosen kami mengajar atau melakukan riset di sana. Targetnya kami bisa mendatangkan satu profesor untuk enam konsentrasi di SBM. Selain itu, akan dilakukan pembangunan fisik. Ke depan ingin dibangun kelas amphiteater berstandar internasional.

Saat menjadi Ketua Program Studi MBA, perubahan apa Anda lakukan sehingga mendapat penghargaan?
Saya perbaiki di framework mulai business result, internal process, dan research capabilities. Dari business result, dulu SBM ITB menerima dua ratus mahasiswa, tetapi sekarang 550 mahasiswa. Itu pun dengan kualifikasi yang lebih tinggi, kami benahi dari tes masuknya. Sebelumnya memakai bahasa Indonesia dan tes potensi akademik, sekarang menggunakan bahasa Inggris.

Dari internal process, saya melakukan perbaikan sistem pembelajaran. Saat ini mahasiswa belajar menggunakan studi kasus yang kami beli beserta hak ciptanya dari Harvard University sedangkan sebelumnya mereka exercise (latihan) dari buku-buku. Kelebihan studi kasus ini adalah real happen (benar terjadi) dengan mempelajari keputusan CEO (pejabat eksekutif tertinggi) yang pernah diimplementasikan di dunia.

Perbaikan lainnya adalah dalam sistem penilaian. Dulu sistem penilaian merupakan prerogratif dosen jadi mahasiswa tidak mengetahui persis dari mana nilainya. Sekarang tidak boleh lagi, harus tranparan. Selain itu, sejak 2005 mahasiswa juga menilai dosen mereka. Kalau nilai dosen di bawah tujuh puluh, ya tidak usah mengajar, artinya harus di-upgrade.

Sesuai kurikulum, sekolah bisnis manajemen harus mencetak entrepreneurial leader. Mereka punya jiwa enterpreneur untuk menjadi pengusaha mandiri dan intrapreneur yaitu menjadi pengusaha tetapi semangatnya entrerpreneur.

Hasilnya, ternyata pada 2009 MBA SBM ITB mendapat peringkat teratas lalu diikuti MM UI (magister manajemen Universitas Indonesia), MM Prasetya Mulya Business School Jakarta, MM Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dan MM UGM (universitas Gadjah Mada) Yogyakarta. ITB naik cukup tinggi karena pada 2003 juga pernah dilakukan survei yang sama tetapi SBM ITB berada di ranking enam, nomor satunya adalah MM UI.

Lantas, bagaimana kontribusi sekolah bisnis manajemen untuk masyarakat sekitarnya?

Selain internasionalisasi, fokus sekolah bisnis manajemen adalah kontekstual artinya harus memberikan value added dalam pemecahan masalah riil nasional. Implementasinya seperti memberikan masukan di perusahaan dan departemen untuk meningkatkan competitiveness dan berkolaborasi dengan program studi ITB lainnya untuk mengomersialisasikan hasil penelitian yang selama ini berhenti di laboratorium. Sekolah bisnis manajemen akan menangani manajemen dan marketing-nya.

Sebagai akademisi sekaligus novelis, bukankah Anda bisa menggabungkan keduanya untuk kepentingan pendidikan?

Memang berdasarkan survei sebuah media massa cetak, empat persen orang ke toko buku membeli buku akademik, sedangkan sebelas persen membeli novel. Artinya kalau kita mau mendidik, potensi novel lebih besar. Saya pernah membaca buku akademik dalam bentuk novel tentang manajemen. Jadi kita mengajari tetapi tidak terlihat mengajari. Sudah saya coba, tetapi ternyata sulit sekali.

Jadi yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah menulis sendiri kasus-kasus di Indonesia. Selama ini banyak kasus yang terjadi di Indonesia, tetapi ditulis oleh Harvard University. (Amaliya/”PR”)***

Klik di sini untuk versi PDFFOTO DERMAWAN WIBISONO DEKAN SBM ITBMEMUTUSKAN terjun ke dunia sastra, bagi kebanyakan orang mungkin memang harus berhitung. Namun, bagi Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M. Eng., menjajal dunia sastra harus diputuskan dengan ekstra berhitung.

Sebagai civitas academica ITB, pria yang akrab disapa Wibi ini bisa dikatakan melawan arus utama ITB yang lebih fasih dalam teknologi dan sains. Selain itu, orang ITB memiliki karakter khusus yang membuat dia harus bertimbang ekstrakeras sebelum serius bergelut di bidang kegemarannya itu.

”Orang ITB itu susah memuji. Mereka pasti akan segera mencemooh sehingga awalnya saya takut. Terlebih saya memang tidak punya latar belakang sastra,” katanya setengah berseloroh.

Namun, ketakutan pehobi menulis itu akhirnya luluh setelah menemukan formula keseimbangan untuk kedua kariernya itu. Artinya, ketika dia memutuskan bergelut di dunia sastra dan mampu menghasilkan novel seperti yang diimpikannya, dia juga harus memberikan kontribusi berupa buku dan jurnal ilmiah internasional di dunia akademiknya.

Benar saja, pada saat Wibi merilis novel perdananya pada 2008 berjudul ”Sang Juara”, relatif tidak ada reaksi negatif dari ITB karena sebelumnya Wibi telah merampungkan dua buku akademik yaitu ”Manajemen Kinerja: Konsep, Desain, dan Teknik Meningkatkan Daya saing Perusahaan” pada 2006 dan “Riset Bisnis: Panduan bagi Praktisi dan Akademisi” terbitan 2003.

Malah kepiawaian Wibi merangkai kata mendapat apresiasi dari para alumni ITB. Maklum, sejauh ini Wibi adalah satu-satunya pejabat ITB yang bisa membuat novel. Pada 2009, tepatnya saat Dies Emas ITB, para alumni yang berniat membuat film dan novel tentang serentetan kisah di ITB yang terekam oleh alumni, meminta Wibi untuk menyusun novelnya.

Kumpulan cerita dari para alumnus tersebut dibukukan Wibi dalam novel berjudul ”Gading-Gading Ganesha (3G)”. Novel itu dirilis pada Juni 2009 dan tanpa disangka menjadi best seller pada Agustus hingga Oktober 2009 di penerbit Mizan. Sementara filmnya akan tayang perdana pada 14 Februari 2010.

”Untuk 2010, saya sudah menyiapkan satu novel berjudul ’Menggapai Matahari’. Akan tetapi, saya juga sudah menyiapkan buku akademik ’Panduan Penentuan Indikator Kinerja Kunci’,” ujarnya.

Sukses Wibi membuat novel dibarengi oleh suksesnya di bidang akademik. Perubahan yang dilakukannya saat menjadi ketua program studi Master of Business Administration (MBA) SBM ITB 2006-2009, mengantarkan MBA SBM ITB mendapat penghargaan dari majalah terbitan Jakarta. Kinerja mantan Anggota Satuan Penjaminan Mutu ITB itu membuat MBA SBM ITB menjadi program terbaik dari 24 sekolah bisnis se-Indonesia tingkat MBA tahun 2009.

Saat ini, dia punya tantangan baru. Diangkat menjadi dekan SBM ITB sejak Agustus 2009, akankah Wibi masih menghasilkan best seller dan prestasi akademik lainnya? Berikut ini petikan wawancaranya.

Target apa yang ingin Anda capai?

Saya ingin sekolah bisnis dan manajemen kita menjadi terbaik di South East Asia. Artinya, kita harus bersaing seperti dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand dan itu cukup berat karena secara manajerial mereka dibantu oleh sekolah bisnis Amerika.

Upaya yang sudah kami lakukan adalah menjadi anggota akreditasi internasional Europian Foundation for Management Development sejak 2007. Berdasarkan frame akreditasi itu maka kami akan melakukan perbaikan misalnya mengukur competitiveness (daya saing) mahasiswa yang masuk dan mendatangkan dosen luar negeri.

Kendalanya adalah untuk mendatangkan satu profesor per satu semester masih mahal sekitar Rp 400 juta – Rp 600 juta. Makanya kami sedang mengembangkan kolaborasi, misalnya tidak hanya dosen asing yang mengajar di sini, tetapi dosen kami mengajar atau melakukan riset di sana. Targetnya kami bisa mendatangkan satu profesor untuk enam konsentrasi di SBM. Selain itu, akan dilakukan pembangunan fisik. Ke depan ingin dibangun kelas amphiteater berstandar internasional.

Saat menjadi Ketua Program Studi MBA, perubahan apa Anda lakukan sehingga mendapat penghargaan?
Saya perbaiki di framework mulai business result, internal process, dan research capabilities. Dari business result, dulu SBM ITB menerima dua ratus mahasiswa, tetapi sekarang 550 mahasiswa. Itu pun dengan kualifikasi yang lebih tinggi, kami benahi dari tes masuknya. Sebelumnya memakai bahasa Indonesia dan tes potensi akademik, sekarang menggunakan bahasa Inggris.

Dari internal process, saya melakukan perbaikan sistem pembelajaran. Saat ini mahasiswa belajar menggunakan studi kasus yang kami beli beserta hak ciptanya dari Harvard University sedangkan sebelumnya mereka exercise (latihan) dari buku-buku. Kelebihan studi kasus ini adalah real happen (benar terjadi) dengan mempelajari keputusan CEO (pejabat eksekutif tertinggi) yang pernah diimplementasikan di dunia.

Perbaikan lainnya adalah dalam sistem penilaian. Dulu sistem penilaian merupakan prerogratif dosen jadi mahasiswa tidak mengetahui persis dari mana nilainya. Sekarang tidak boleh lagi, harus tranparan. Selain itu, sejak 2005 mahasiswa juga menilai dosen mereka. Kalau nilai dosen di bawah tujuh puluh, ya tidak usah mengajar, artinya harus di-upgrade.

Sesuai kurikulum, sekolah bisnis manajemen harus mencetak entrepreneurial leader. Mereka punya jiwa enterpreneur untuk menjadi pengusaha mandiri dan intrapreneur yaitu menjadi pengusaha tetapi semangatnya entrerpreneur.

Hasilnya, ternyata pada 2009 MBA SBM ITB mendapat peringkat teratas lalu diikuti MM UI (magister manajemen Universitas Indonesia), MM Prasetya Mulya Business School Jakarta, MM Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dan MM UGM (universitas Gadjah Mada) Yogyakarta. ITB naik cukup tinggi karena pada 2003 juga pernah dilakukan survei yang sama tetapi SBM ITB berada di ranking enam, nomor satunya adalah MM UI.

Lantas, bagaimana kontribusi sekolah bisnis manajemen untuk masyarakat sekitarnya?

Selain internasionalisasi, fokus sekolah bisnis manajemen adalah kontekstual artinya harus memberikan value added dalam pemecahan masalah riil nasional. Implementasinya seperti memberikan masukan di perusahaan dan departemen untuk meningkatkan competitiveness dan berkolaborasi dengan program studi ITB lainnya untuk mengomersialisasikan hasil penelitian yang selama ini berhenti di laboratorium. Sekolah bisnis manajemen akan menangani manajemen dan marketing-nya.

Sebagai akademisi sekaligus novelis, bukankah Anda bisa menggabungkan keduanya untuk kepentingan pendidikan?

Memang berdasarkan survei sebuah media massa cetak, empat persen orang ke toko buku membeli buku akademik, sedangkan sebelas persen membeli novel. Artinya kalau kita mau mendidik, potensi novel lebih besar. Saya pernah membaca buku akademik dalam bentuk novel tentang manajemen. Jadi kita mengajari tetapi tidak terlihat mengajari. Sudah saya coba, tetapi ternyata sulit sekali.

Jadi yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah menulis sendiri kasus-kasus di Indonesia. Selama ini banyak kasus yang terjadi di Indonesia, tetapi ditulis oleh Harvard University. (Amaliya/”PR”)***

Klik di sini untuk versi PDF

Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Minggu, 31 Januari 2010