Quo Vadis Keilmuan Manajemen?

Oleh Togar M. Simatupang

Prof. Togar M. Simatupang, Ph.D u d web

Bumi pertiwi Indonesia telah dikenal sebagai negeri yang berlimpah ruah dengan berbagai ragam sumberdaya alam dan budayanya. Kekayaan alam dan budaya yang kaya tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengapa bangsa Indonesia tidak bisa bangkit menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya yang nota bene memiliki sumberdaya alam yang minim. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia begitu lemah dalam mengurus rumah tangganya sendiri . Istilah “salah urus” menjadi begitu akrab didengar seiring dengan kegagalan prestasi yang dialami oleh perusahaan swasta maupun lembaga pemerintahan.

Suatu ironi terjadi antara pertumbuhan pendidikan manajemen di Indonesia dengan lemahnya kemampuan manajemen bangsa Indonesia. Menurut catatan Kopertis IV, ada 26 program studi yang mengandung istilah manajemen. Sementara mahasiswa program studi sarjana manajemen seluruh Indonesia berjumlah 287.558 orang atau sekitar 8,98% dari populasi mahasiswa Indonesia. Untuk kota Bandung saja terdapat 87 program studi yang terkait dengan kegiatan manajemen antara lain akuntansi, manajemen, administrasi niaga dan negara, pemasaran, logistik, dan informatika. Jumlah program studi tersebut memberikan kontribusi terbesar sekitar 16,68% dari 521 program studi yang ada di perguruan tinggi Kota Bandung. Bahkan program studi manajemen dan akuntansi tercatat menempati peringkat teratas menurut jumlah mahasiswa di empat PTS ternama, yakni Pasundan, Parahyangan, Maranatha, dan Widyatama.

Program studi manajemen juga terkesan sebagai program studi yang mudah dipelajari ditilik dari lonjakan jumlah peminat dan lulusan. Beberapa universitas ternama di Bandung telah meluluskan ratusan orang dengan gelar magister dan doktor ilmu manajemen. Fenomena pertumbuhan lulusan yang pesat ini lagi-lagi menimbulkan pertanyaan mengapa begitu banyak persoalan manajemen tidak mendapatkan penjelasan apalagi pemecahan yang memadai padahal sudah banyak dilakukan penelitian. Belum lagi dipertanyakan berapa besar kontribusi lulusan program doktor ilmu

manajemen terhadap indeks sitasi para pakar manajemen Indonesia di tataran dunia, katakanlah yang tercatat di Scopus. Mengapa disiplin ilmu pengetahuan manajemen yang dipelajari tidak berdaya dalam konteks Indonesia?

Disiplin Manajemen

Istilah manajemen berasal kata Perancis “ménagement”  yang mempengaruhi perkembangan kata Inggris “management” yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Karena itu, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni atau praktik tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Mengapa manajemen begitu penting? Pentingnya manajemen dapat dilihat dari manajemen sebagai sistem sosial yang menunjukkan bahwa manajemen bersifat universal yang terdapat pada semua tipe perusahaan baik laba dan nirlaba ataupun organisasi kecil dan besar (Drucker, 1999). Manajemen dibutuhkan pada semua jenis usaha baik manufaktur maupun jasa. Permasalahan seperti keterlambatan, antrian panjang, kualitas buruk, dan pemborosan

dapat dikaitkan dengan salah urus karena manajemen yang buruk. Organisasi yang merancang dan menerapkan manajemen yang teratur biasanya dapat berkembang dengan baik yang ditandai dengan meningkatnya pelanggan dan bertumbuhnya laba.

Apakah disiplin manajemen itu? Disiplin manajemen dapat didefinisikan sebagai kegiatan penelitian (teori) dan pengalaman (praktik) tentang desain dan implementasi pengetahuan manajerial. Masalah disiplin manajemen berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam sistem sosial untuk mengatasi berbagai masalah yang belum tentu tampak di permukaan.

Ranah disiplin manajemen berangkat dari konsepsi bahwa organisasi terdiri dari sekumpulan manusia dengan hubungan yang bersifat sosial. Ranah disiplin manajemen terdiri dari fokus, proses, fungsi, dan tujuan. Fokus manajemen adalah sekumpulan manusia mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan dengan menggunakan sumberdaya untuk mencapai tujuan organisasi. Proses manajerial terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Proses manajerial berlangsung pada semua fungsi manajemen yang meliputi sumberdaya manusia dan organisasi, operasi dan rantai pasokan, pemasaran dan penjualan, dan keuangan dan akuntansi. Demikian pula kehadiran manajemen terjadi pada kegiatan antar fungsi yang mendukung kegiatan strategi antara lain informasi dan pengetahuan, keputusan, negosiasi, dan teknologi. Sementara itu, pembaharuan antar fungsi dapat dilakukan melalui kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan dan inovasi.

Konsep manajemen mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan peradaban. Manajemen Jepang muncul pada tahun 1980-an dengan penerapan sistem pengendalian mutu yang melibatkan manusia. Pengaruh era informasi membuat kemunculan perspektif kognitif pada tahun 1990-2010-an dengan penekanan pada pemahaman cara manusia berpikir, manajemen pengetahuan, pengenalan kesalahan dalam pengolahan informasi, dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Era kreatif pada tahun 2010-an menekankan kesadaran manusia dengan kemampuan empati, desain, bercerita, bermain, dan simfoni (Pink, 2005). Kajian manajemen dalam era kreatif telah memasuki ranah estetika dan emosional termasuk perhatian pada tanggung-jawab sosial. Kemampuan konseptual semakin penting bagi sebu

ah organisasi bukan hanya untuk memperbaharui diri sendiri, menunjukkan keunikan, dan meningkatkan citra, tetapi juga supaya dapat memanfaatkan hak kekayaan intelektual. Disiplin manajemen dalam era kreatif tidak hanya bertumpu pada pendekatan kognitif di mana informasi tersedia dengan melimpah tetapi berkembang ke arah perspektif imajinatif yang diwujudkan ke dalam kemampuan desain yang dapat menciptakan nilai bagi para pemegang kepentingan.

Tanggung Jawab Sosial

Perkembangan disiplin manajemen menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kemajuan inovasi suatu bangsa dengan penguasaan kemampuan manajemen. Douglas North (1990), peraih Nobel Ekonomi tahun 1993, menemukan bahwa aturan-aturan yang diistilahkan institusi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kinerja pembangunan. Pembangunan tidak dapat dipisahkan dari sistem politik dan wawasan dunia yang tercermin dalam sistem moral-budaya yaitu aturan permainan di dalam sebuah masyarakat. Bila tidak ada sistem moral yang bertanggung jawab, maka inovasi tidak akan berkembang karena sistem ekonomi digantikan oleh kegiatan pemerasan yang menimbulkan hasil yang merusak, seperti perdagangan yang tidak sehat, penuh dengan korupsi dan manipulasi, dan tidak perprinsip.

Kemajuan terjadi dalam lingkungan yang mendukung berlangsungnya inovasi dalam lembaga baik bisnis, nirlaba, dan pemerintahan. Kemajuan bukanlah disebabkan oleh inovasi itu sendiri tetapi bagaimana wawasan dunia mempengaruhi kegiatan inovasi. Wawasan dunia yang dogmatis dapat menghambat kegiatan inovasi bahkan menolak hasil-hasil inovasi. Inovasi berkembang dalam suatu sistem moral yang membuat orang bertanggung-jawab dalam mengembangkan nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan tertentu.

Kegagalan manajemen atau salah urus di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh ketidakberdayaan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan manajemen di Indonesia untuk berpihak pada kepentingan orang banyak dan bukan untuk segelintir orang. Praktik manajemen yang tidak sehat dibiarkan terus-menerus berlanjut karena proses penelitian hanya dipandang sebagai kegiatan yang objektif bebas nilai, padahal praktik manajemen berakar pada wawasan dunia atau pola pik

ir yang mendasarinya. Tanpa adanya penelitian yang terarah pada distorsi pola pikir, bahasa, dan kekuasaan yang menghambat kegiatan manajemen, maka akan sulit melihat berkembangnya kemampuan manajemen bangsa Indonesia.

Selain minimnya penelitian yang bersifat interpretatif dan kritis dalam konteks budaya Indonesia, pendidikan manajemen juga lemah dalam menjawab persoalan nyata di depan mata, yakni pengangguran, kebangkrutan, korupsi, dan kesenjangan. Persoalan yang besar tentunya memerlukan suatu konsolidasi antar perguruan tinggi. Anehnya tidak ada konsorsium antar perguruan tinggi yang mengkaji kompetensi kewirausahaan, daya saing perusahaan, dan penciptaan lapangan kerja. Hal ini terjadi karena belum ada tanggung jawab terhadap kemandirian dalam meningkatkan kompetensi lulusan sarjana manajemen, bahkan urusan kualitas pendidikan diserahkan kepada Pemerintah (“PR”, 19/10). Boleh dikatakan bahwa pendidikan manajemen Indonesia alpa untuk meningkatkan perannya dalam mengatasi persoalan ekonomi dan sosial yang sedang mendera bangsa Indonesia.

Disiplin manajemen masih relevan dengan kehidupan manusia yang bekerja dan berhubungan dengan lembaga atau organisasi. Tetapi persoalannya bukan pada keilmuan manajemen itu sendiri tetapi pada kesiapan dan kemauan para pelaku untuk mengikuti syarat manajemen yang menunjut keterbukaan, moralitas, dan kegigihan. Kiranya para pakar manajemen di Kota Bandung mau meneliti dan mengajarkan bahwa realitas dari berbagai hambatan yang terjadi seringkali berakar pada wawasan dunia yang keliru bukan pada instrumen manajemennya.

Penulis, Guru Besar Sains ManajemenOleh Togar M. Simatupang

Prof. Togar M. Simatupang, Ph.D u d webBumi pertiwi Indonesia telah dikenal sebagai negeri yang berlimpah ruah dengan berbagai ragam sumberdaya alam dan budayanya. Kekayaan alam dan budaya yang kaya tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengapa bangsa Indonesia tidak bisa bangkit menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya yang nota bene memiliki sumberdaya alam yang minim. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia begitu lemah dalam mengurus rumah tangganya sendiri . Istilah “salah urus” menjadi begitu akrab didengar seiring dengan kegagalan prestasi yang dialami oleh perusahaan swasta maupun lembaga pemerintahan.

Suatu ironi terjadi antara pertumbuhan pendidikan manajemen di Indonesia dengan lemahnya kemampuan manajemen bangsa Indonesia. Menurut catatan Kopertis IV, ada 26 program studi yang mengandung istilah manajemen. Sementara mahasiswa program studi sarjana manajemen seluruh Indonesia berjumlah 287.558 orang atau sekitar 8,98% dari populasi mahasiswa Indonesia. Untuk kota Bandung saja terdapat 87 program studi yang terkait dengan kegiatan manajemen antara lain akuntansi, manajemen, administrasi niaga dan negara, pemasaran, logistik, dan informatika. Jumlah program studi tersebut memberikan kontribusi terbesar sekitar 16,68% dari 521 program studi yang ada di perguruan tinggi Kota Bandung. Bahkan program studi manajemen dan akuntansi tercatat menempati peringkat teratas menurut jumlah mahasiswa di empat PTS ternama, yakni Pasundan, Parahyangan, Maranatha, dan Widyatama.

Program studi manajemen juga terkesan sebagai program studi yang mudah dipelajari ditilik dari lonjakan jumlah peminat dan lulusan. Beberapa universitas ternama di Bandung telah meluluskan ratusan orang dengan gelar magister dan doktor ilmu manajemen. Fenomena pertumbuhan lulusan yang pesat ini lagi-lagi menimbulkan pertanyaan mengapa begitu banyak persoalan manajemen tidak mendapatkan penjelasan apalagi pemecahan yang memadai padahal sudah banyak dilakukan penelitian. Belum lagi dipertanyakan berapa besar kontribusi lulusan program doktor ilmu

manajemen terhadap indeks sitasi para pakar manajemen Indonesia di tataran dunia, katakanlah yang tercatat di Scopus. Mengapa disiplin ilmu pengetahuan manajemen yang dipelajari tidak berdaya dalam konteks Indonesia?

Disiplin Manajemen

Istilah manajemen berasal kata Perancis “ménagement”  yang mempengaruhi perkembangan kata Inggris “management” yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Karena itu, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni atau praktik tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Mengapa manajemen begitu penting? Pentingnya manajemen dapat dilihat dari manajemen sebagai sistem sosial yang menunjukkan bahwa manajemen bersifat universal yang terdapat pada semua tipe perusahaan baik laba dan nirlaba ataupun organisasi kecil dan besar (Drucker, 1999). Manajemen dibutuhkan pada semua jenis usaha baik manufaktur maupun jasa. Permasalahan seperti keterlambatan, antrian panjang, kualitas buruk, dan pemborosan

dapat dikaitkan dengan salah urus karena manajemen yang buruk. Organisasi yang merancang dan menerapkan manajemen yang teratur biasanya dapat berkembang dengan baik yang ditandai dengan meningkatnya pelanggan dan bertumbuhnya laba.

Apakah disiplin manajemen itu? Disiplin manajemen dapat didefinisikan sebagai kegiatan penelitian (teori) dan pengalaman (praktik) tentang desain dan implementasi pengetahuan manajerial. Masalah disiplin manajemen berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam sistem sosial untuk mengatasi berbagai masalah yang belum tentu tampak di permukaan.

Ranah disiplin manajemen berangkat dari konsepsi bahwa organisasi terdiri dari sekumpulan manusia dengan hubungan yang bersifat sosial. Ranah disiplin manajemen terdiri dari fokus, proses, fungsi, dan tujuan. Fokus manajemen adalah sekumpulan manusia mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan dengan menggunakan sumberdaya untuk mencapai tujuan organisasi. Proses manajerial terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Proses manajerial berlangsung pada semua fungsi manajemen yang meliputi sumberdaya manusia dan organisasi, operasi dan rantai pasokan, pemasaran dan penjualan, dan keuangan dan akuntansi. Demikian pula kehadiran manajemen terjadi pada kegiatan antar fungsi yang mendukung kegiatan strategi antara lain informasi dan pengetahuan, keputusan, negosiasi, dan teknologi. Sementara itu, pembaharuan antar fungsi dapat dilakukan melalui kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan dan inovasi.

Konsep manajemen mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan peradaban. Manajemen Jepang muncul pada tahun 1980-an dengan penerapan sistem pengendalian mutu yang melibatkan manusia. Pengaruh era informasi membuat kemunculan perspektif kognitif pada tahun 1990-2010-an dengan penekanan pada pemahaman cara manusia berpikir, manajemen pengetahuan, pengenalan kesalahan dalam pengolahan informasi, dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Era kreatif pada tahun 2010-an menekankan kesadaran manusia dengan kemampuan empati, desain, bercerita, bermain, dan simfoni (Pink, 2005). Kajian manajemen dalam era kreatif telah memasuki ranah estetika dan emosional termasuk perhatian pada tanggung-jawab sosial. Kemampuan konseptual semakin penting bagi sebu

ah organisasi bukan hanya untuk memperbaharui diri sendiri, menunjukkan keunikan, dan meningkatkan citra, tetapi juga supaya dapat memanfaatkan hak kekayaan intelektual. Disiplin manajemen dalam era kreatif tidak hanya bertumpu pada pendekatan kognitif di mana informasi tersedia dengan melimpah tetapi berkembang ke arah perspektif imajinatif yang diwujudkan ke dalam kemampuan desain yang dapat menciptakan nilai bagi para pemegang kepentingan.

Tanggung Jawab Sosial

Perkembangan disiplin manajemen menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kemajuan inovasi suatu bangsa dengan penguasaan kemampuan manajemen. Douglas North (1990), peraih Nobel Ekonomi tahun 1993, menemukan bahwa aturan-aturan yang diistilahkan institusi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kinerja pembangunan. Pembangunan tidak dapat dipisahkan dari sistem politik dan wawasan dunia yang tercermin dalam sistem moral-budaya yaitu aturan permainan di dalam sebuah masyarakat. Bila tidak ada sistem moral yang bertanggung jawab, maka inovasi tidak akan berkembang karena sistem ekonomi digantikan oleh kegiatan pemerasan yang menimbulkan hasil yang merusak, seperti perdagangan yang tidak sehat, penuh dengan korupsi dan manipulasi, dan tidak perprinsip.

Kemajuan terjadi dalam lingkungan yang mendukung berlangsungnya inovasi dalam lembaga baik bisnis, nirlaba, dan pemerintahan. Kemajuan bukanlah disebabkan oleh inovasi itu sendiri tetapi bagaimana wawasan dunia mempengaruhi kegiatan inovasi. Wawasan dunia yang dogmatis dapat menghambat kegiatan inovasi bahkan menolak hasil-hasil inovasi. Inovasi berkembang dalam suatu sistem moral yang membuat orang bertanggung-jawab dalam mengembangkan nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan tertentu.

Kegagalan manajemen atau salah urus di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh ketidakberdayaan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan manajemen di Indonesia untuk berpihak pada kepentingan orang banyak dan bukan untuk segelintir orang. Praktik manajemen yang tidak sehat dibiarkan terus-menerus berlanjut karena proses penelitian hanya dipandang sebagai kegiatan yang objektif bebas nilai, padahal praktik manajemen berakar pada wawasan dunia atau pola pik

ir yang mendasarinya. Tanpa adanya penelitian yang terarah pada distorsi pola pikir, bahasa, dan kekuasaan yang menghambat kegiatan manajemen, maka akan sulit melihat berkembangnya kemampuan manajemen bangsa Indonesia.

Selain minimnya penelitian yang bersifat interpretatif dan kritis dalam konteks budaya Indonesia, pendidikan manajemen juga lemah dalam menjawab persoalan nyata di depan mata, yakni pengangguran, kebangkrutan, korupsi, dan kesenjangan. Persoalan yang besar tentunya memerlukan suatu konsolidasi antar perguruan tinggi. Anehnya tidak ada konsorsium antar perguruan tinggi yang mengkaji kompetensi kewirausahaan, daya saing perusahaan, dan penciptaan lapangan kerja. Hal ini terjadi karena belum ada tanggung jawab terhadap kemandirian dalam meningkatkan kompetensi lulusan sarjana manajemen, bahkan urusan kualitas pendidikan diserahkan kepada Pemerintah (“PR”, 19/10). Boleh dikatakan bahwa pendidikan manajemen Indonesia alpa untuk meningkatkan perannya dalam mengatasi persoalan ekonomi dan sosial yang sedang mendera bangsa Indonesia.

Disiplin manajemen masih relevan dengan kehidupan manusia yang bekerja dan berhubungan dengan lembaga atau organisasi. Tetapi persoalannya bukan pada keilmuan manajemen itu sendiri tetapi pada kesiapan dan kemauan para pelaku untuk mengikuti syarat manajemen yang menunjut keterbukaan, moralitas, dan kegigihan. Kiranya para pakar manajemen di Kota Bandung mau meneliti dan mengajarkan bahwa realitas dari berbagai hambatan yang terjadi seringkali berakar pada wawasan dunia yang keliru bukan pada instrumen manajemennya.

Penulis, Guru Besar Sains Manajemen