Outlook Makro Ekonomi Indonesia 2011

CB

Talking at SBM ITB in Jakarta (15/12/2010), advisor for economic issue to President RI, Dr Chatib Basri, revealed his forecast on emerging risks and macroeconomic outlook for 2011.

According to member of the Advisory Group for Asia Pacific IMF, risks might appear in 2011 includes the impact of Europe that is relatively limited. And if the capital inflow continues, Dr Chatib predicts that there will be more pressure on money supply. He adds,” Food price may increase and higher oil price would appear in 2011.”

Furthermore, Senior Lecturer at FE-UI underlines the BI’s act. If BI do not let the exchange rate appreciate, according to him, inflation goes up or BI’s balance sheet in trouble (Foreign exchange-Forex is invested in US T Bills (return 0%) vs sterilization via SBI (6.5%). “If BI raise BI rate, it will induce more capital inflow. But if BI do not guide expected inflation, inflation will rise,’’ said former Deputy Finance Minister for G-20.

One of the most interesting points regarding to investment in Indonesia, according to Dr Chatib, is the increasing investment outside Java and Sumatra as it would result in an increase to reach approximately 40% over the previous year. Adding to that, he indicates that labor-intensive industries would still have to deal with significant issues, but commodities and mining industries would show a promising result.

What about the Macroeconomic Forecast 2011? Interesting table is given to sum-up the discussion.

Picture2CBBerbicara di SBM ITB Jakarta (15/12/2010), penasehat Presiden RI untuk masalah ekonomi, Dr Chatib Basri, mengungkapkan prospek ekonomi makro tahun 2011 dan kemungkinan risiko yang akan dihadapi.

Menurut anggota Tim Penasehat untuk IMF Asia Pasifik, risiko yang mungkin muncul pada tahun 2011 salah satunya adalah dampak dari Eropa yang relatif terbatas. Dan jika arus masuk kapital terus berkelanjutan, Dr Chatib memprediksi bahwa akan terjadi tekanan pada suplai uang. “Harga bahan pangan dapat meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi akan terjadi pada tahun 2011,” imbuhnya.

Selain itu, Dosen Senior FE-UI menggaris-bawahi perilaku Bank Indonesia (BI). Jika BI tidak membiarkan nilai tukar mata uang asing melakukan penyesuaian, menurut Dr Chatib, neraca BI akan berada dalam kesulitan dikarenakan biaya yang diperlukan untuk melakukan sterilisasi (Foreign Exchange diinvestasikan dalam US T Bills dengan return 0%  vs sterilisasi melalui SBI sebesar 6,5%).  “Jika BI menaikkan bunga, maka hal itu akan semakin mendorong arus modal masuk. Tapi jika BI tidak dapat mengelola ekspektasi inflasi, maka inflasi akan naik,” ujar mantan Deputi Menteri Keuangan untuk G-20.

Salah satu hal menarik berkaitan dengan investasi di Indonesia, menurut Dr Chatib, adalah meningkatnya penanaman modal di luar pulau Jawa dan Sumatera mencapai sekitar 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Dia juga menambahkan bahwa industri yang labour-intensive masih harus menghadapi beberapa masalah, namun industri komoditas dan pertambangan akan masih menjanjikan.

Bagaimana Forecast Ekonomi Makro 2011? Demikian kesimpulan Dr Chatib seperti dilansir tabel berikut.

Picture2