Meraih Kemakmuran Global di Era 3.0

Banyak ahli menyebut, saat ini kita berada di era globalisasi. Perpindahan barang, modal, informasi, bahkan manusia, mengalir cepat melintasi batas negara. Bahkan futurist Thomas L. Friedman dalam bukunya The World is Flat mengibaratkan, akibat kecepatan perpindahan tersebut, dunia seakan-akan tidak berbentuk bulat, melainkan datar. Namun, benarkah saat ini kita telah memasuki era globalisasi? Pankaj Ghemawat, ekonom yang juga mantan profesor di Harvard Business School, menjawab tegas: belum.

Data yang disajikan Ghemawat dalam buku ini mematahkan segala teori tentang globalisasi dan membuat globalisasi masih sebatas angan-angan (halaman 26). Terkait dengan perpindahan manusia antarbatas negara, misalnya, hanya ada 2% mahasiswa di dunia yang belajar di luar negara asalnya. Juga, ternyata 90% penduduk dunia tidak pernah meninggalkan negara kelahirannya! Kemudian, hanya 7% direktur perusahaan yang termasuk dalam S&P 500 yang merupakan ekspatriat. Aktivitas ekspor juga memberikan data serupa: ekspor yang terjadi di seluruh dunia hanya berkontribusi 23% terhadap Produk Domestik Bruto global pada 2009. Lalu lintas Internet global pun menunjukkan, hanya 17%-18% aktivitas dunia maya yang melintasi batas antarnegara pada 2008. Data ini menegaskan bahwa aliran antarbatas negara yang menjadi indikator globalisasi masih sangat kecil.

Globalisasi yang rendah juga tampak pada indikator aliran modal: foreign direct investment hanya berkontribusi 9% terhadap total investasi global pada 2009. Lalu, hanya kurang dari 20% modal ventura yang dialokasikan di luar negara asal si investor, dan cuma 20% saham yang dimiliki investor luar negeri.

Jika globalisasi ditandai dengan tumbuhnya berbagai perusahaan raksasa yang menguasai perdagangan global, Ghemawat menunjukkan bahwa level konsentrasi industri strategis justru menurun drastis sejak 1950, kemudian cenderung konstan sejak 1980. Misalnya ditunjukkan bahwa 60 tahun yang lalu hanya dua perusahaan mobil yang mampu menghasilkan setengah produksi mobil di dunia, kini angka itu meningkat menjadi 6 korporasi.

Dengan data yang menunjukkan antitesis dari globalisasi itulah Ghemawat menawarkan konsep era 3.0 sebagai solusi mencapai kemakmuran global.

Mengapa 3.0? Jika era 1.0 menekankan pentingnya batas antarnegara serta kebijakan proteksi dan regulasi pemerintah yang kaku, sedangkan era 2.0 mengedepankan pentingnya pasar bebas dan globalisasi, maka era 3.0 justru mengambil pandangan yang lebih realistis dalam melihat perkembangan dunia. Era 3.0 adalah sebuah jembatan di antara kedua era tersebut.

Ide utama dalam konsep dunia 3.0 adalah kombinasi antara integrasi pasar global dan regulasi yang cair. Ghemawat secara gamblang menyebut bahwa era 3.0 sesungguhya semiglobalisasi (halaman 17). Dalam era 3.0 batas negara masih menjadi hal penting, tetapi aliran perpindahan yang melintasi batas tersebut juga tidak boleh diabaikan. Pandangan semiglobalisasi ini dinilai lebih realistis untuk mencapai apa yang dicita-citakan sebagai kesejahteraan global.

Untuk menganalisis integrasi antarbatas negara ini, Ghemawat menciptakan sebuah framework yang disebutnya sebagai culture, administrative, geographic dan economic differences (CAGE). Analisis dengan menggunakan kerangka CAGE ini mampu menjelaskan fenomena aliran barang, orang, informasi, hingga modal yang melintasi batas negara di era 3.0.

Berdasarkan kerangka CAGE, Ghemawat menunjukkan bahwa di era 3.0, justru kesamaan (komunalitas) dan regionalisasilah yang mampu memberi nilai tambah ekonomi dalam perdagangan global. Misalnya, perdagangan antardua negara justru akan memberi hasil lebih besar 42% jika mereka memiliki kesamaan dalam bahasa, 47% jika keduanya tergabung dalam blok perdagangan yang sama, 114% jika memiliki kesamaan mata uang, dan 188% jika memiliki kesamaan sejarah masa lalu (halaman 58). Dengan framework ini, kedekatan dan kesamaan budaya, letak geografis, bahkan sejarah akan memberi keuntungan dan nilai tambah dalam hubungan antarnegara.

Lalu, bagaimana dengan hubungan antarnegara di era 3.0? Bab 13 buku ini menceritakan bagaimana konsep 3.0 berlaku bagi pengambil kebijakan di beberapa negara di dunia. Ada beberapa negara yang dianalisis di bagian ini: mulai dari negara kecil Andorra di Eropa yang selalu gelisah dan terancam akibat letak geografisnya yang dikepung oleh Prancis dan Spanyol sehingga perekonomiannya bergantung pada kedua negara tersebut. Kemudian Nigeria yang memiliki “kutukan sumber daya alam” akibat perekonomiannya yang stagnan padahal memiliki sumber minyak yang melimpah. Hingga pada hubungan perekonomian dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan Cina (di buku ini disebut sebagai Chimerica).

Khusus hubungan AS dan Cina, kerangka CAGE pada konsep 3.0 menyimpulkan adanya ketidakseimbangan hubungan antarbatas kedua negara. Inilah yang menjelaskan hubungan “benci tapi rindu” dari kedua penguasa ekonomi dunia tersebut selama ini. Ketidakseimbangan hubungan kedua negara ini nyata terlihat pada perdagangan yang surplus di sisi Cina dan defisit di sisi AS, dan diperkirakan akan terus berlanjut di masa depan. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membuat Cina memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding AS, dan ini dipicu oleh sikap Pemerintah Cina yang lebih mengutamakan pertumbuhan ketimbang kesejahteraan rakyatnya. Ini berbeda dari AS yang lebih berorientasi jangka pendek, pada kesejahteraan warganya, sehingga sektor konsumsi di AS akan lebih tinggi dibanding Cina. Perbedaan budaya dalam memandang sebuah masalah ini yang juga diyakini menyebabkan ketidakseimbangan hubungan kedua negara.

Buku ini kaya dengan berbagai pendekatan keilmuan, mulai dari ekonomi, organisasi, bisnis, hingga kebijakan publik. Kesemuanya digunakan untuk memberi gambaran utuh tentang pandangan era 3.0 dalam melihat kondisi dunia. Gaya analisis Ghemawat yang didasarkan pada data yang dilengkapi dengan intuisinya yang tajam sebagai ahli globalisasi selama 30 tahun, membuat konsep 3.0 sulit terbantahkan.

Konsep 3.0 yang ditawarkan Ghemawat memang merupakan gagasan yang segar dalam tata perekonomian dunia, tetapi tampaknya gagasan untuk mengintegrasikan globalisasi dan integrasi batas negara ini masih menjadi sebuah model ideal yang susah diwujudkan. Bagaimanapun, seperti dituturkan Milton Friedman, hal yang penting dari sebuah model bukan pada kemampuannya menangkap realitas, melainkan lebih pada kemampuannya memprediksi hal yang akan terjadi.

Judul: World 3.0, Global Prosperity and How to Achieve ItPenulis: Pankaj GhemawatResensi oleh:Yudo AnggoroStaf Pengajar SBM ITB,Kandidat Doktor Kebijakan PublikUniversity of North Carolina – CharlotteAmerika SerikatYudo AnggoroKandidat Doktor Kebijakan PublikUniversity of North Carolina – Charlotte

Judul: World 3.0, Global Prosperity and How to Achieve It

Penulis: Pankaj Ghemawat

Resensi oleh: Yudo Anggoro (Kandidat Doktor Kebijakan Publik – University of North Carolina)

Sumber: http://swa.co.id/2011/09/meraih-kemakmuran-global-di-era-3-0/