Kuntoro, from Aceh for Indonesia

TD Garden (Boston, Masachussets, AS), Mei 4, 2012. On its 110th commencement, Northeastern University, represented by its president, Prof. Joseph E. Aoun, presented honorary degrees to six recipients. Among which were General Colin Powell (former US Secretary of State) and Kuntoro Mangkusubroto. Kuntoro, who graduated from university in 1977, were the only recipient outside the US.TD Garden (Boston, Masachussets, AS), 4 Mei 2012. Pada commencement-nya yang ke-110, Universitas Northeastern, dipimpin langsung oleh presidennya Prof. Joseph E. Aoun, menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada enam tokoh. Dua di antaranya adalah Colin Powell (eks-Menteri Luar Negeri AS) dan Kuntoro Mangkusubroto. Kuntoro, yang juga alumnus dari universitas tersebut pada tahun 1975, adalah satu-satunya penerima dari luar AS.

The honorary degree was presented to Kuntoro as an appreciation to his lifelong contribution to the application of decision science. His career in public service received global acknowledgement, especially from his achievements in leading the Agency for the Rehabilitation and Reconstruction of Aceh and Nias during 2005-2009.

As a celebration, Bandung Institute of Technology (ITB) together with Northeastern University co-hosted a public lecture by Kuntoro with the topic of “Managing Reform in Indonesia: From Tsunami Recovery to UKP4 – Decision Science in Practice”. This academic forum was held in the auditorium of State Electricity Company (PLN), a company in which he served as the CEO 14 years ago. The lecture intended to disseminate Kuntoro’s experience around the “art” of decision making at the highest level; experience that brings decision science into practice.

Kuntoro received his bachelor’s (industrial engineering) and professorship (decision science) both from ITB, respectively in 1972 and 2012. Since in his early thirties, the decision scientist had already been actively advocating decision science in Indonesia, among others by teaching the subject as an adjunct professor at the Command and Staff College of the Indonesia Air Force (1979-1982).

Throughout his career, Kuntoro sat at top positions in several state owned companies, served as the minister of mining and energy for two presidents, lead the BRR and now head the President’s Delivery Unit for Development Monitoring and Oversight (widely known as UKP4). In his public lecture, he positioned his experience from the last two organizations as an exceptional phase of his journey in exploring, challenging, applying and sharing decision science.

Especially at BRR, Kuntoro admitted that his knowledge on decision science was highly contested. Pressure came not only from the nature, but also from the people and their conflicts. “Facing nature is facing a problem that is relatively organized. On the other hand, people are not organized. The nature doesn’t think, but people do. There we were required to analyze and negotiate,” Kuntoro said philosophically.

“In BRR, I was realized that nothing can be considered as optimal or perfect. Everything is sub-optimal. In fact, that provides us with opportunities for continuous improvement, innovation and invention,” he further stated.

One of the most important innovations made in Aceh was the usage of Geographic Information System. This system is now highly utilized in UKP4 in its effort to monitor national and local development projects. “Too many innovations that are very valuable to the extent that I can confidently state that they are all Aceh?s heritage for Indonesia and the world,” said Kuntoro.

Also attended by Vice President Prof. Boediono, the event had around 500 audiences. The public lecture that took place on Friday (September 6, 2013) was opened by Nur Pamudji (CEO of PLN) and Prof. Dr. Akhmaloka (Rector of ITB), responded by Prof. Hooi Den Huan (Nanyang Technology University, Singapore) and closed by Prof. Joseph E. Aoun.

Berita terkait:
Kuntoro Awarded Honorary Doctorate
Video Public Lecture on youtube


Penganugerahan doktor honoris causa ituadalah sebentuk apresiasi terhadap kegigihan Kuntoro atas kontribusi nyata penerapan kepakarannya dalam ilmu keputusan. Kepakarannya dinilai mumpuni hingga menuai pengakuan dunia terutama ketika mengomandani Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pascatsunami (BRR) pada 2005-2009.

Untuk merayakan itulah Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Northeastern mengadakan kuliah umum Kuntoro “Menata Perubahan di Indonesia: Dari Pemulihan Pascatsunami ke UKP4 – Ilmu Keputusan dalam Praktik”. Gelaran ilmiah di Auditorium PLN Pusat tersebut – tempat 14 tahun lampau ia pernah menjadi CEO-nya – diikhtiarkan pula untuk mendiseminasikan pengalamannya seputar “seni” pengambilan keputusan di level strategis yang, telah terbukti dan diakui, turut mewarnai perubahan demi perubahan di republik ini. Isunya terletak pada bagaimana ilmu keputusan itu dipraktikkan.

Gelar sarjana (teknik industri) dan guru besar (ilmu keputusan) diperoleh Kuntoro dari ITB, masing-masing pada 1972 dan 2012. Sudah sejak usia awal 30-an decision scientist itu sudah “lantang” menancapkan bendera pengambilan keputusan sebagai disiplin ilmu; antara lain ditunjukkan dengan menjadi dosen tamu mata kuliah ilmu keputusan di Sekolah Staf dan Komando TNI AU (1979-1982).

Penempuh rimba dan pendaki gunung “Wanadri” angkatan 1969 ini acapkali “dipinjam tenaganya” untuk beragam kapasitas, antara lain: tiga kali sebagai Dirut BUMN hingga dijuluki “dokter perusahaan sakit”, satu kali sebagai menteri di bawah dua presiden, hingga mengepalai BRR dan kini UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan). Ia menempatkan pengalamannya di dua institusi terakhir itu sebagai fase sangat istimewa dari perjalanan mempelajari, menantang, menerapkan, hingga berbagi sebuah disiplin ilmu yang telah dipilih dan dicintainya sejak mahasiswa.

Terutama di BRR, aku Kuntoro, penguasaannya terhadap ilmu keputusan benar-benar diuji. Tekanan bukan saja datang dari alam, melainkan juga dari manusia beserta konfliknya. “Menghadapi alam, itu menghadapi masalah yang relatif tertata. Sedangkan dengan orang, tidak tertata. Alam tidak berpikir, tetapi orang berpikir. Di situlah kita dilatih untuk menganalisis dan juga bernegosiasi,” jelas Kuntoro setengah berfilsafat.

“Di BRR mata saya makin terbuka bahwa tidak ada sesuatu yang optimal atau sempurna. Semuanya “suboptimal”. Justru karena suboptimal itulah kerja keras untuk membuat kondisi menjadi lebih baik dari waktu ke waktu menjadi dimungkinkan alih-alih melahirkan sejumlah terobosan atau invensi,” ujarnya.

Salah satu terobosan penting dari Aceh yang kini berhasil “dijual” UKP4 adalah pemanfaatan informasi geografis (GIS) ke dalam sistem pengendalian pembangunan nasional dan daerah, papar Kuntoro di public lecture yang dihadiri pula oleh Wakil Presiden, Bapak Prof. Boediono. “Saking banyak dan bernilainya pembelajarannya, sampai -sampai saya berani menyatakan, itu semua ibarat “warisan dari Aceh untuk Indonesia, dan bahkan dunia”,” yakinnya.

Dihadiri 500-an undangan, kuliah umum pada Jumat (6 September 2013) sore yang dibuka oleh Nur Pamudji (Dirut PT PLN) dan Prof. Dr. Akhmaloka (Rektor ITB), ditanggapi oleh Prof. Hooi Den Huan (Nanyang Technology University, Singapore) serta ditutup oleh Prof. Joseph E. Aoun itu berlangsung sederhana namun cukup hangat dan menuai antusias.

Berita terkait:
Kuntoro Awarded Honorary Doctorate
Video Public Lecture on youtube